Kelompok A14

Terobosan Baru Pemanfaatan Susu Segar untuk Meningkatkan Nilai Jual sebagai Bahan Baku Tahu Susu

Jumat, 16 Mei 2014

Ancaman Produksi tahu

Keresahan juga menghinggapi para produsen tahu tempe di Bengkulu. Mereka mengancam menghentikan produksi jika pemerintah tidak bisa menurunkan harga kedelai dari Rp 9.500 menjadi Rp 7.500/kg. “Kami tidak mampu lagi membeli harga bahan baku kedelai" kata Suratmo (44), salah seorang perajin tahu tempe di Kota Bengkulu, yang ditemui SP, di Bengkulu, Minggu (8/9). Mereka mengatakan, sejak harga kedelai melambung menjadi Rp 9.500/kg, sebagian besar hasil keuntungan mereka tersedot untuk menambah modal membeli bahan baku. Hal ini terjadi karena mereka tidak menaikkan harga jual kepada konsemen.Sungkono (49), perajin tahu tempe lainya di Kota Bengkulu mengaku modal yang dikeluarkan tidak seimbang lagi dari keuntungan yang didapat. “Hampir 70% penjualan tersedot untuk modal bahan baku kedelai. Kalau kondisi seperti terus berlanjut, lebih baik saya berhenti membuat tahu tempe, karena hasilnya tidak ada lagi," ujarnya.Sementara itu, Ketua Koperasi Harapan Baru, Kota Bengkulu, Mas Agus Yunus mengatakann, sampai sekarang sudah 50% dari 115 anggotanya telah berhenti memproduksi tahu tempe. Untuk itu, dia mengharapkan Pemprov Bengkulu dapat mengatasi kenaikan harga kedelai dengan mensubsidi harga bahan baku pembuatan tahu tempe, sehingga para perajin masih bisa berproduksi.Sementara itu, Asisten II Pemprov Bengkulu, M Nashyah mengatakan, untuk mengendalikan harga kedelai di daerah ini, Bulog pusat akan mensuplai kedelai ke Bengkulu sebanyak 2.000 ton. "Kedelai itu diperkirakan tiba di Bengkulu Oktober mendatang," ujarnya. Kedelai yang akan dipasok Bulog berasal dari Amerika Serikat (AS). [ARS/143]     

sumber: http://www.suarapembaruan.com/home/pengrajin-tempe-dan-tahu-di-jatim-mogok/41493 diakses pada tanggal 16 Mei 2014

Tidak ada komentar:

Posting Komentar